Selasa, 14 Februari 2012

sistem imun


KATA PENGANTAR

           Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Alergi Susu Sapi Pada Anak  yang kami sajikan berdasarkan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah SWT, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah ini sangat perlu dipahami bagi kita semua. Walaupun makalah ini mungkin masih jauh dari sempurna tetapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi para pembaca.
Penyusun juga mengucapkan terimakasih kepada Dosen yang telah membimbing penyusun agar dapat mengerti tentang bagaimana cara kami menyusun makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah  ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.






Medan,   Januari 2012

Penyusun



DAFTAR ISI
halaman
KATA PENGANTAR ................................................................................      3
DAFTAR ISI ...............................................................................................      4
BAB   I      PENDAHULUAN.....................................................................      5
1.1    LATAR BELAKANG.......................................................      5
1.2    TUJUAN ............................................................................      6
BAB   II    ALERGI SUSU SAPI PADA ANAK.....................................      7
2.1    Definisi ................................................................................      7
2.2    Prevalensi Dan Insidensi....................................................      7
2.3    Patofisiologi Dan Manifestasi Klinis.................................      7    
2.4    Diagnosis.............................................................................      15
2.5    Pemeriksaan Penunjang....................................................      17
2.6    Penatalaksanaan.................................................................      20
2.7    Pencegahan.........................................................................      25
2.8    Prognosis.............................................................................      26
PENYAKIT HEMATOLOGI .................................................      28
3.1  Kolesterol Darah.................................................................      28
3.2  Penyakit Jantung Koroner................................................      30
3.3  Faktor  Resiko Dapat Dikendalikan.................................      30
3.4  Faktor  Resiko Tidak  Dapat Dikendalikan.....................      31
3.5  Upaya  Pencegahan............................................................      31
3.6  Penanganan Medis.............................................................      32
BAB   III   KESIMPULAN.........................................................................      33
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................      34





BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Sumber nutrisi terbaik bagi bayi baru lahir adalah air susu ibu (ASI). Setelah melalui masa pemberian ASI secara ekslusif yang umumnya berlangsung 3-6 bulan, bayi mulai diberikan susu formula sebagai pengganti air susu ibu (PASI). PASI lazimnya dibuat dari susu sapi, karena susunan nutriennya dianggap memadai dan harganya terjangkau. Susu sapi dianggap sebagai penyebab alergi makanan pada anak-anak yang paling sering dan paling awal dijumpai dalam kehidupan. Alergi susu sapi merupakan suatu penyakit berdasarkan reaksi imunologis yang timbul sebagai akibat dari susu sapi atau makanan yang mengandung susu sapi.
Hippocrates pertama kali melaporkan adanya reaksi terhadap susu sapi sekitar tahun 370 SM. Dalam dekade belakangan ini prevalensi dan perhatian terhadap alergi susu sapi semakin meningkat. Susu sapi sering dianggap sebagai penyebab alergi makanan pada anak-anak yang paling sering. Beberapa penelitian pada beberapa negara di seluruh dunia menunjukan prevalensi alergi susu sapi pada anak-anak pada tahun pertama kehidupan sekitar 2%. Sekitar 1-7% bayi pada umumnya menderita alergi terhadap protein yang terkandung dalam susu sapi. Sedangkan sekitar 80% susu formula bayi di pasar menggunakan bahan dasar susu sapi.
Pada sumber lain dikatakan bahwa alergi terhadap protein susu sapi/Cow’s milk protein allergy (CMPA) terjadi pada 2-6% dari anak-anak, dengan prevalensi tertinggi pada usia tahun pertama. Sekitar 50% anak telah ditunjukkan sembuh dari CMPA pada usia tahun pertama, atau 80-90% dalam tahun kelimanya. Alergi pada susu sapi 85% akan menghilang atau menjadi toleran sebelum usia 3 tahun. Penanganan alergi terhadap susu sapi adalah menghindari susu sapi dan makanan yang mengandung susu sapi, dengan memberikan susu kedelai sampai terjadi toleransi terhadap susu sapi. Perbedaan kontras antara penyakit alergi terhadap susu sapi dan makanan lain pada bayi adalah bahwa dapat terjadi toleransi secara spontan pada anak usia dini.
Alergi protein susu sapi dapat berkembang pada anak-anak yang diberi ASI atau pada anak-anak yang diberi susu formula. Namun, anak-anak yang diberi ASI biasanya memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk menjadi alergi terhadap makanan lainnya. Biasanya, anak yang diberi ASI dapat mengalami alergi terhadap susu sapi jika bayi tersebut bereaksi terhadap kadar protein susu sapi yang sedikit yang didapat dari diet ibu saat menyusui. Pada kasus lainnya, bayi-bayi tertentu dapat tersensitisasi terhadap protein susu sapi pada ASI ibunya, namun tidak mengalami reaksi alergi sampai mereka diberikan secara langsung susu sapi.

B.  Tujuan
Pada makalah ini akan dibahas mengenai alergi susu sapi pada anak, sehingga pembaca dapat mengetahui dan memahami tentang definisi, manifestasi klinis, diagnosis, penatalaksanaan, dan pencegahan alergi susu sapi pada anak.


















BAB II
ALERGI SUSU SAPI PADA ANAK SISTEM IMUN
DAN HEMATOLOGI
2.1  Definisi
Alergi susu sapi adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang disebabkan oleh alergi terhadap susu sapi dengan keterlibatan mekanisme sistem imun. Reaksi alergi yang terjadi ini diprovokasi oleh protein yang ada dalam susu sapi. Susu merupakan protein yang spesifik untuk tiap spesiesnya, karenanya protein dalam susu sapi memang sesuai untuk usus sapi, tetapi belum tentu sesuai dengan usus manusia. Bagi kebanyakan bayi, protein susu sapi merupakan protein asing yang pertama kali dikenalnya saat ia mendapat susu formula.

2.2  Prevalensi Dan Insidensi
Dalam survei nasional ahli alergi anak, tingkat prevalensi alergi susu sapi dilaporkan 3,4% di Amerika Serikat. Sedangkan di Denmark, pada studi kohort dari 1.749 bayi baru lahir dari pusat Kota Odense yang dimonitor secara prospektif untuk pengembangan intoleransi terhadap protein susu sapi selama tahun pertama kehidupan, dilaporkan besarnya insidensi dalam 1 tahun adalah 2,2%. Sebuah penelitian prospektif menunjukkan bahwa 42% bayi yang mengalami gejala akibat intoleransi protein susu sapi terjadi dalam waktu 7 hari (70% dalam waktu 4 minggu) setelah pemberian susu sapi. Intoleransi protein susu sapi telah didiagnosis pada 1,9-2,8% dari populasi umum bayi berumur 2 tahun atau lebih muda di berbagai negara di Eropa bagian utara, namun kejadian turun menjadi sekitar 0,3% pada anak-anak yang berusia lebih dari 3 tahun.

2.3  Patofisiologi Dan Manifestasi Klinis
Protein susu sapi adalah salah satu dari alergen utama yang terlibat dalam kedua jenis alergi, dan diagnosis yang tepat sangat penting untuk manajemen yang tepat. (5) Susu sapi mengandung lebih dari 20 fraksi protein. Dalam dadih, dapat diidentifikasi 4 kasein (yaitu, S1, S2, S3, S4) yang jumlahnya sekitar 80% dari protein susu. 20% protein sisanya, pada dasarnya adalah protein glubular (misalnya, laktoalbumin, lactoglobulin, bovine serum albumin), yang terkandung dalam air dadih. Kasein sering dianggap kurang imunogenik karena strukturnya yang fleksibel, tidak padat. Secara historis, lactoglobulin merupakan alergen utama dalam intoleransi protein susu sapi. Namun, polisensitisasi beberapa protein terjadi pada sekitar 75% dari pasien dengan alergi terhadap protein susu sapi.
Protein Component
Molecular Weight (kD)
Percentage of total protein
Alerginisitas
Stability in the temperature 100 c
β -lactoglobulin
18.3
10
+++
++
Casein
20-30
82
++
+++
α -lactalbumin
14.2
4
++
+
Serum albumin
67
1
+
+
Immunoglobulins
160
2
+
-

Tabel 2.1 Karakteristik komponen protein pada susu sapi.

Anak-anak adalah kelompok usia yang paling sering terkena penyakit ini dan harus diikuti dengan hati-hati karena adanya komplikasi yang parah dari pembatasan diet seperti keterlambatan pertumbuhan berat badan, kwashiorkor, hipokalsemia dan rakitis. Istilah "intoleransi protein sapi" sering digunakan dalam kasus-kasus gejala non spesifik yang dikaitkan dengan susu, apakah termasuk jenis reaksi imun mediasi IgE atau non-IgE, mekanisme patologi ini disebabkan oleh reaksi imun terhadap protein susu.
Alergi terhadap makanan (atau dalam hal ini susu sapi) mengacu pada reaksi imun terhadap protein dalam makanan dan dapat dibagi menjadi 2 (dua) jenis mekanisme yaitu reaksi mediasi IgE dan non-IgE (kebanyakan adalah selular) (gambar 2.1). Reaksi mediasi IgE dapat diketahui melalui tes diagnostik yang telah disahkan, sedangkan reaksi imun mediasi non IgE yang dapat timbul dalam saluran gastrointestinal belum diketahui dan dijelaskan dengan baik dan lebih sulit untuk dikenali. Beberapa reaksi dapat juga melibatkan kedua jenis mekanisme tersebut atau berevolusi sekunder menuju alergi mediasi IgE.
2.3.1 Alergi Susu Mediasi IgE
A. Patofisiologi
Alergi susu mediasi IgE terjadi ketika organisme gagal untuk mendapatkan daya tahan (toleransi) terhadap alergen makanan. Alergen makanan utama pada anak-anak ialah panas, asam, dan protease yang stabil, glikoprotein yang water soluble dengan ukuran 10-70 kd. Contohnya yaitu protein dalam susu (kasein), kacang (vicilin), dan telur (ovumucoid) dan protein transfer lemak yang tidak spesifik yang ditemukan pada buah apel (Mald 3).
Ketika antigen makanan dicerna, makanan diproses dalam usus dimana terdapat banyak mekanisme fisik yang kompleks (lendir, asam, sel epitel dan asam) dan proteksi imunologis. Hilangnya pelindung seperti keadaan netralisasi pH lambung dapat membuat alergi. Serupa seperti pada bayi dimana pelindung-pelindung usus (aktivitas enzim dan produksi IgA) masih belum matang sehingga meningkatkan prevalensi alergi makanan pada masa bayi.
Antigen presenting cells (APC), khususnya sel epitel usus dan sel dendritik, dan sel T memiliki peran utama pada daya tahan oral melalui ekspresi IL-10 dan IL-4. Bakteri komensal usus juga mempengaruhi respon imun mukosa. Daya tahan dibentuk dalam 24 jam pertama setelah lahir dan memproduksi molekul imunomudulator yang memiliki efek bermanfaat dalam pembentukan imun respon. Studi saat ini telah menunjukan bahwa ketidakseimbangan komposisi dari bakteri mikrobiota menjadi faktor utama terjadinya alergi, asma atau inflammatory bowel disease.
Alergi yang dimediasi IgE dimulai dari sensitisasi. Alergen dicerna, diinternalisasi dan diekspresikan pada permukaan APC. APC berinteraksi dengan limfosit T dan menghasilkan transformasi dari limfosit B menjadi sel sekretori antibodi. Setelah dibentuk dan dilepaskan ke sirkulasi, IgE mengikat, melalui bagian Fc, ke reseptor sel mast yang memiliki afinitas yang tinggi, meninggalkan reseptor spesifik alergen mereka yang ada untuk berinteraksi dengan alergen di masa depan suatu saat nanti.
Proses alergi yang dibentuk tanpa dimediasi oleh IgE kurang begitu dimengerti namun fase pengenalan antigen awal kemungkinan adalah sama, dan merangsang reaksi inflamasi utama melalui mediasi sel T dan eosinofil, meliputi aktivasi sitokin-sitokin yang berbeda seperti IL-5.
Hubungan yang terbentuk dari sejumlah sel mast/antibodi IgE yang berikatan dengan basophil yang cukup oleh alergen merangsang proses intra-seluler, hal ini menyebabkan degranulasi sel, dengan pelepasan histamin dan mediator peradangan lainnya.

B. Manifestasi klinis
Alergi susu sapi ditandai oleh berbagai variasi manifestasi klinis yang terjadi setelah meminum susu. Manifestasi paling berbahaya dari reaksi mediasi IgE akibat alergi susu ialah anafilaksis. Setelah degranulasi sel mast, pelepasan mediator inflamasi mempengaruhi berbagai sistem organ. Gejala yang dapat timbul ialah pruritus, urtikaria, angio-edema, muntah, diare, nyeri perut, sulit bernapas, sesak, hipotensi, pingsan, dan syok. Gejala pada kulit merupakan gejala paling sering, meskipun, sampai 20% reaksi anafilaksis dapat muncul tanpa adanya manifestasi pada kulit khususnya pada anak-anak. Onset munculnya gejala dari reaksi anafilaksis yang diinduksi makanan bervariasi namun mayoritas reaksi muncul dalam hitungan detik sampai 1 jam pertama setelah terpapar.
Diantara gejala-gejala akibat alergi makanan, seringkali terdapat dermatitis atopi. Memang, telah diketahui bahwa 30% anak-anak yang menderita dermatitis atopi yang sedang sampai berat memiliki hubungan dengan alergi makanan yang memperparah eksema. Makanan yang berpengaruh ialah susu sapi, dengan ditemukannya IgE spesifik pada kebanyakan pasien.




Reaksi cepat
Reaksi Lambat
·      Anafilaksis
·      Urtikaria akut
·      Akut angioedema
·      Sesak
·      Rhinitis
·      Batuk kering
·      Muntah
·      Edema laryngeal
·      Asma akut dengan stres pernapasan
·      Dermatitis atopi
·      Diare kronis, diare berdarah, anemia defisiensi besi, konstipasi, muntah kronis, kolik
·      Terganggunya pertumbuhan
·      Enteropati dengan kehilangan protein dengan hipoalbuminemia
·      sindrom enterokolitis
·      Esofagogastroenteropati eosinofilik yang diketahui dari biopsy
Tabel 2.2 Onset reaksi cepat dan lambat alergi susu sapi pada anak-anak.

2.3.2 Alergi Susu Sapi Gastrointestinal
A. Patofisiologi
Mekanisme dasar yang mengarah pada alergi belum diketahui dengan baik. Berbagai faktor, yag berhubungan dengan pasien (faktor genetik, flora usus) dan yang tidak berhubungan (seperti waktu, dosis, frekuensi eksposure alergen) yang saling berinteraksi dengan patogenesis penyakit. Alergi gastrointestinal, kebanyakan pasien mengalami reaksi hipersensitivitas tipe IV dengan respon yang abnormal dari limfosit TH2. Produk ini meningkatkan jumlah mediator inflamasi, seperti IL-4 dan IL-5, seperti kemokin, yang menyebabkan aktivasi eosinofil. Pada beberapa pasien, alergi campuran dari mediasi IgE dan non IgE dapat terjadi dan tes diagnostik harus dilakukan untuk kedua jenis alergi tersebut.







B. Manifestasi Klinis
Pasien dengan alergi susu gastrointestinal dapat muncul dengan berbagai macam gejala, berdasarkan lokalisasi dari inflamasi (Tabel 2.3).
Alergi Pada Usus Mediasi Non IgE atau Campuran
Gejala-Gejala
Komplikasi
Tes Diagnostik
Evolusi
Penatalaksanaan
Kolitis Makanan Dan Susu
Perdarahan rectum dengan pengeluaran lendir pada bayi
Anemia
Eliminasi diet untuk ibu atau hydrolyzed milk (bayi yang tidak diberi ASI), biopsy kolon jika resisten terhadap kultur feses
Resolusi dalam 6-12 bulan
Diet eliminasi diikuti tes pemberian ulang setelah 6 bulan
Esofagus Eosinofilik
Regurgitasi, refluks, anoreksia, disfagi atau menolak makanan, muntah, nyeri lambung
Kegagalan pertumbuhan, kehilangan berat badan, striktur esofagus
Endoskopi, biopsy, tes kutaneus dan epikutaneus, diet asam amino dan tes provokasi oral
Terus menerus ada
Diet eliminasi, steroid sistemik atau topical (ditelan)
Food Protein-Induced Enterocolitis Syndrome (FPIES)
Muntah terus-menerus/diare 2-4 jam setelah makan/minum
Leukositosis, syok hipovolemik, asidosis metabolic, hipotensi
Riwayat sugestif, tes epikutaneus dan/atau tes provokasi oral
Resolusi dalam 2-5 tahun
Diet eliminasi diikuti tes pemberian ulang
Food Protein Induced Enteropathy
Gejala insidious, abdominal discomfort, disfagia, kehilangan berat badan, muntah, diare
Hipereosinofilia, hematemesis/rectal bleeding, anemia defisiensi besi, hipoalbuminemia, kegagalan pertumbuhan
Endoskopi, biopsy, tes skin prick’s dan epikutaneus, tes provokasi oral
Resolusi dalam 1-2 tahun
Diet eliminasi
Tabel 2.3 Alergi makanan mediasi non IgE

Gastroenteropathies Eosinofilik
Gastroenteropathies eosinofilik didefinisikan infiltrasi eosinofil pada dinding usus. Terdapat 3 (tiga) bentuk keadaan klinis yang dijelaskan: kolitis yang diinduksi susu, oesophagitis eosinofilik dan enterocolitis yang diinduksi protein makanan. Prevalensi kelainan-kelainan tersebut semakin meningkat. Diagnosis banding dari eosinofilia usus sangat luas dan meliputi inflamatory bowel disease, infeksi parasit, sindrom hipereosinofilia dan hipersensitivitas obat. Tidak ada tes diagnostik yang patognomonis dan diagnosis alergi eosinofilia gastroenterologi harus berdasarkan keadaan klinis, tes kulit, biopsi dan/atau oral food challenges.

Colitis Akibat Makanan dan Susu Sapi (Food and cow’s milk colitis)
Alergi susu sapi merupakan salah satu penyebab yang umum dari terjadinya kehilangan darah kronis dan anemia pada masa neonatal, dengan darah samar atau perdarahan rectum pada feses dan diare, meskipun begitu diare berdarah yang masif jarang terjadi. Pendarahan rektal merupakan gejala yang mengkhawatirkan tetapi pada umumnya jinak dan self limiting tetapi dapat dikaitkan dengan alergi susu pada sekitar 20% kasus. Bayi yang terkena dapat timbul dengan pendarahan anus yang terisolasi dengan mengeluarkan lendir pada jam pertama kehidupan, dapat melalui dalam rahim, atau sebelum 3 sampai 6 bulan pertama kehidupan tetapi biasanya tetap dalam kondisi umum yang sangat baik. Biopsi rektal menunjukkan peradangan eosinofilik yang khas dengan erosi epitel, microabscess atau fibrosis. Gejala diakibatkan oleh protein susu sapi yang terkandung dalam susu formula atau ASI, dan setengah dari pasien ini didiagnosis ketika menggunakan ASI eksklusif.
Kebanyakan dari bayi hanya alergi terhadap susu tapi sekitar 20% juga dapat bereaksi terhadap telur, dan protein makanan lain walaupun jarang. Kemajuan klinis biasanya sangat baik seiring dengan perbaikan gejala dalam waktu lima hari setelah diet bebas susu sapi bagi ibu. Bila diet pada ibu mengalami kegagalan, diet bebas telur juga dapat dilakukan. Alergi ini biasanya sembuh dalam beberapa bulan, sehingga pemberian susu kembali dapat dilakukan antara 6 dan 12 bulan.

Oesofagitis Eosinofilik (Eosinophilic oesophagitis)
Penyakit ini baru diidentifikasi dalam 15 tahun terakhir dan studi menunjukkan prevalensi yang semakin meningkat. Penyakit ini terutama mempengaruhi orang-orang berusia dekade kedua atau ketiga, tetapi semakin banyak pula dilaporkan dalam literatur-literatur pediatrik. Penyakit ini didefinisikan dengan terjadinya suatu infiltrasi eosinofil pada esofagus, dan terkait dengan gejala refluks yang resisten terhadap terapi proton pump inhibitor (PPI).
Pasien biasanya mengeluhkan gejala sakit seperti ketidaknyamanan, disfagia dan cenderung untuk menghindari makan makanan berserat atau kering. Gejala pada anak-anak biasanya tidak khas, seperti sakit perut, muntah atau regurgitasi dan anoreksia, atau kegagalan pertumbuhan. Endoskopi dapat menampilkan berbagai gambaran dari area normal sampai putih atau merah merata dengan beberapa striktur esofagus, dengan aspek tracheiformis yang khas.
Biopsi menunjukkan infiltrasi padat dari dinding oleh eosinofil (> 15-20/ Lapang pandang). Esofagitis ini dapat sipersulit oleh adanya stenosis esofagus dan impaksi makanan. Eosinofilik esofagitis biasanya disebabkan oleh alergi makanan dengan campuran mediasi IgE dan non IgE, khususnya pada anak-anak dan remaja.
Identifikasi alergen harus dikoordinasikan dengan spesialis karena dapat melibatkan berbagai antigen. Diet bebas unsur asam amino atau formula semi-unsurnya dapat menyebabkan perbaikan gejala sebanyak 30-70% pada pasien ini. Namun demikian, penggunaan steroid topikal atau sistemik sering dibutuhkan, terutama jika makanan penyebab tidak dapat diidentifikasi secara jelas atau jika peradangan sudah berlangsung lama.

Enterokolitis yang Diinduksi Protein Makanan (Food protein-induced enterocolitis)
Alergi ini dapat muncul dengan gejala yang luar biasa seperti muntah terus menerus dan/atau diare lendir berdarah yang dapat membuat lemas dan syok hipovolemik. Gejala dapat muncul seringkali 2 (dua) jam setelah makan atau minum. Anak-anak dengan gejala-gejala ini seringkali menjadi suspek terjadinya sepsis. Jumlah hitung darah selama fase akut adalah leukositosis yang dipenuhi oleh sel-sel muda (neutrofil non segmen). Mekanismenya belum jelas namun diketahui dipengaruhi oleh reaksi mediasi IgE dan non IgE. Biopsi kolon memperlihatkan abses kripta dengan infiltrasi inflamasi yang difus. Alergi ini dapat juga disebabkan oleh protein pada makanan daripada susu, seperti halnya reaksi terhadap kedelai, ikan, nasi, kentang dan ayam.
Riwayat dari eneterocolitis yang diinduksi susu biasanya membaik setelah usia 2-3 tahun, namun perubahan penyakitnya dapat lebih panjang pada pasien dengan enterokolitis yang diinduksi protein padat. Pasien dengan manifestasi klinis yang tidak jelas harus dilakukan tes diagnostik menggunakan endoskopi dan biopsi yang bertujuan untuk menghilangkan diagnosis penyakit eosinofilik.

2.4  Diagnosis
Proses diagnosis alergi susu sapi pada dasarnya adalah sama dengan proses diagnosa alergi makanan. Seperti penyakit pada umumnya, proses diagnosa dimulai dari penelusuran dan evaluasi riwayat penyakit, dilanjutkan dengan pemeriksaan klinis secara seksama. Hal yang khusus dilakukan dalam investigasi alergi makanan adalah pembuatan catatan harian diet, uji eliminasi dan provokasi, uji kulit, dan pemeriksaan kadar IgE.
Dalam anamnesis, perhatian difokuskan pada reaksi alergi yang terjadi, dan kaitannya dengan makanan yang dimakannya. Setelah berbagai bahan makanan yang dicurigai menjadi penyebab alergi diperoleh, diagnosa dikonfirmasi dengan pemeriksaan berupa uji eliminasi dan uji provokasi. Prinsip uji eliminasi adalah menghindarkan bahan makanan yang menjadi tersangka, dalam hal ini adalah protein susu sapi, selama 2 minggu. Dalam kurun waktu ini diobservasi apakah gejala alergi yang ada berkurang atau tidak. Bila gejala berkurang, dapat dilanjutkan uji provokasi untuk mengkonfirmasinya lagi, yaitu dengan pemberian kembali bahan makanan tersebut, dan dicatat reaksi yang terjadi. Jika makanan tersangka memang penyebab alergi, maka gejala akan berkurang saat makanan dieliminasi dan muncul kembali lagi saat diprovokasi. Di samping penggunaan cara tersebut, cara pemeriksaan yang dapat dipakai juga adalah dengan pemeriksaan kadar IgE dan uji kulit. Kadar IgE yang meninggi dalam darah dapat dipergunakan sebagai petunjuk status alergi pada pasien, dan memang kadar IgE ini seringkali didapatkan meninggi pada penderita alergi susu sapi. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh Hidvegi dkk, diduga kadar total IgE serum dan IgG anti--casein memiliki nilai prognostik; yaitu bila didapatkan peningkatan pada awal penyakit, toleransi terhadap susu sapi akan dicapai lebih lambat atau bahkan dapat pula sifat alergi yang terjadi bersifat menetap.
Uji kulit yang dilakukan, disebut skin prick tests. Namun demikian perlu diketahui bahwa uji kulit ini memiliki nilai prediktif positif yang rendah, karena tingginya hasil positif palsu. Interpretasi ini perlu diperhatikan, sebab bila tatalaksana dilakukan berdasarkan hasil positif ini, maka dapat saja terjadi penghindaran makanan yang sesungguhnya tidak perlu dilakukan.
Di sisi lain, tes ini juga memiliki nilai prediktif negatif yang tinggi, dengan demikian bila didapatkan hasil yang negatif maka diagnosa alergi makanan dapat dianggap kecil kemungkinannya.Walau demikian dalam praktek klinisnya sehari-hari, diagnosa lebih sering ditegakkan berdasarkan gejala dan respons klinis dari uji eliminasi dan provokasi. Pemeriksaan secara laboratoris hanya bersifat pelengkap. Sedangkan penggunaan uji kulit pada anak, selain karena masalah akurasinya yang kurang, perlu juga dipertimbangkan faktor ketidaknyamanan yang akan timbul, mengingat penderita umumnya berusia di bawah 2-3 tahun.
Walaupun tampaknya mudah, pada beberapa keadaan diagnosis dapat menjadi sulit dan membingungkan. Hal ini terjadi misalnya karena adanya reaktivasi dari makanan lain. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah protein susu sapi dapat menimbulkan alergi baik dalam bentuk murni, atau bisa juga dalam bentuk lain seperti es krim, keju, dan kue yang menggunakan susu sapi sebagai bahan dasarnya.

2.5  Pemeriksaan Penunjang
Selain dari manifestasi klinis yang ada, untuk mendiagnosis adanya alergi susu sapi pada anak dapat dilakukan beberapa tes penunjang atau tes diagnostik. Berikut ini adalah tes untuk menilai alergi terhadap susu sapi, yaitu:

2.5.1  Skin Prick Test (SPT)
SPT merupakan tes yang cepat dan tidak mahal untuk mendeteksi sensitisasi mediasi kelainan IgE dan dapat dikerjakan pada bayi dengan baik. Nilai prediksi negatif adalah baik (>95%) dan dipastikan dengan tidak adanya reaksi mediasi IgE. Meskipun, hasil respon yang positif tidak pasti menunjukan bahwa makanan merupakan penyebabnya (kurang spesifik), dan hanya menunjukan sensitivitas terhadap makanan (atopi, pada keadaan tidak adanya gejala alergi).
SPT kurang begitu berguna pada kelainan alergi usus yang sensitif terhadap makanan daripada alergi yang dimediasi oleh IgE. Pada alergi mediasi non IgE, seperti Food protein-induced enterocolitis atau colitis akibat susu menghasilkan hasil tes yang negatif. Meskipun begitu, SPT bergunan dalam mengeluarkan diagnosis banding alergi mediasi IgE atau dalam keadaan patologi yang disebabkan mekanisme kombinasi, khususnya esofagitis eosinofilik dimana SPT dapat membantu mengetahui penyebab dari alergennya.
mekanisme limfosit sel T yang serupa dengan terjadinya mekanisme enteropati. Meskipun begitu, sel T dari lokasi yang berbeda mengekspresikan marker awal yang berbeda, seperti CLA (Cutaneus Lymphocyte Antigen) untuk kulit dan α4β7-integrin untuk usus, yang mana dapat merubah sensitivitas dan spesifisitas dari tes. Tes ini telah diteliti pada kasus dermatitis yang parah dimana sensitivitasnya sekitar 65%. Telah ditunjukkan bahwa tes ini membantu untuk mengetahui penyebab makanan pada esofagitis pada anak-anak tetapi seringkali hasilnya negatif pada pasien dewasa.

2.5.2    Diet Eliminasi dan Tes Tantangan Pemberian Makanan (Oral Food Challenge)
Bila diagnosis masih belum jelas, oral food challenge merupakan standar emas. Sebuah protokol diterbitkan oleh Bock SA pada tahun 1988 dan protokol standar telah diusulkan oleh European Academy of Allergy and Clinical Immunology pada tahun 2004. Pasien mencerna, lebih dari 2 jam, secara progresif meningkatkan jumlah dari makanan yang diduga membuat alergi. Prosedur dihentikan ketika muncul gejala klinis (tes positif) atau setelah jumlah makanan yang dimakan sudah mencapai batasnya dan reaksi alergi tidak muncul. Karena terdapat reaksi anafilaksis, tes ini harus dipimpin secara ketat, oleh tenaga medis yang terlatih, dan kesiapan peralatan resusitasi. Protokol ini lama, mahal, dan dapat menyebabkan kecemasan atau ketidaknyamanan reaksi klinis, namun pemeriksaan ini merupakan indikasi pasti pada pasien dengan diagnosis yang tidak jelas.
Dasar dari diagnosis food-induced gastrointestinal allergy ialah respon terhadap diet eliminasi, dengan timbulnya gejala yang berulang ketika diberikan makanan atau susu. Disebabkan reaksi alergi biasanya tertunda, diet eliminasi harus dilakukan untuk setidak-tidaknya 1 (satu) bulan sebelum diberikan tantangan makanan (food challenge). Namun, identifikasi penyebab makanan seringkali berat dan dokter kadang-kadang harus meresepkan diet ketat yang "oligo-antigen".
Pada beberapa sindrom alergi seperti food protein-induced enterocolitis, tantangan pemberian makanan dapat menyebabkan reaksi klinis berbahaya yang mengarah kepada syok hipovolemik. Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk memasang jalur intravena dan memiliki supervisi medis dengan fasilitas resusitasi dan penatalaksanaan segera.

2.5.3    Uji In Vitro
Dalam uji in vitro seperti ECP (Eosinophilic Cationic Protein), tes aktivasi basophil atau tes proliferasi limfosit tidak menunjukkan sensitivitas atau spesifisitas dalam mendiagnosis alergi makanan. Namun berbeda dengan penelitian yang dilakukan Edit Hidvégi dan rekan-rekan (2001) yang menyimpulkan bahwa normalisasi kadar serum ECP dapat menjadi indikasi berhentinya alergi susu sapi. Oleh karena itu, pengukuran serum ECP mungkin dapat membantu dalam menentukan waktu yang optimal untuk mengulang uji pemberian tantangan makanan, sehingga hasilnya akan cenderung lebih negatif. Penurunan kadar yang signifikan dari serum ECP 2 jam setelah uji awal pemberian tantangan makanan dapat dijelaskan oleh fakta bahwa protein ini dikeluarkan ke dalam lumen usus.

2.5.4    Dosis Antibodi Serum IgE
Pemeriksaan kuantitif dari antibodi IgE spesifik terhadap makanan sering menjadi langkah yang berikutnya. Alergen yang diduga diikat ke matriks padat dan dipaparkan ke serum pasien. Antibodi IgE spesifik untuk alergen mengikat ke matriks protein dan dideteksi menggunakan antibodi spesifik sekunder pada bagian Fc dari IgE manusia. Hampir sama dengan skin test, sensitisasi dapat muncul tanpa reaksi klinis, dan tes tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis alergi makanan tanpa adanya riwayat klinis alergi makanan. Meskipun begitu, meningkatnya konsentrasi dari spesifik IgE akibat makanan berhubungan dengan meningkatnya kemungkinan reaksi klinis. Meskipun memiliki sensitivitas yang baik, pada sebagian kecil pasien dengan reaksi gejala klinis alergi yang sesuai namun serum IgE spesifik akibat makanan tidak dapat dideteksi.
2.6  Penatalaksanaan
2.6.1  Diet Eliminasi
Penatalaksanaan utama alergi makanan (dalam hal ini susu sapi) adalah diet eliminasi. Pasien dan keluarganya harus diajarkan untuk selalu membaca label makanan yang mengandung susu atau produknya (mentega, kasein, lactalbumin, lactoglobulin atau laktosa).
Pada anak kecil, diet eliminasi harus dipertimbangkan dengan hati-hati dan memerlukan tindak lanjut medis yang terus-menerus, karena diet eliminasi secara serius dapat mengganggu kualitas hidup dan membuat efek samping yang parah. Ketika alergi susu sapi didiagnosis pada bayi, dokter harus merekomendasikan kepada orangtua penggunaan makanan pengganti susu berdasarkan extensively hydrolysed susu sapi dan harus mengobservasi pasien untuk menentukan waktu yang paling tepat untuk diberikan kembali susu sapi tersebut.
Extensively hydrolysed formulas merupakan disusun oleh campuran peptida dan asam amino yang diproduksi dari kasein susu sapi atau air dadih dan dapat ditoleransi pada 95% anak yang alergi terhadap susu. Jika gejalanya tetap persisten, maka dapat digunakan formula asam amino, khususnya pada anak dengan alergi beberapa makanan dan gangguan pertumbuhan. Dibandingkan dengan eHF, Soy formula (SF) atau susu kedelai merangsang reaksi yang lebih sering pada anak-anak yang mengalami alergi protein susu sapi berusia kurang dari 6 bulan. Soy formula dapat menginduksi terjadinya gejela-gejala gastrointestinal. Susu kedelai, tidak sesuai dengan kebutuhan gizi anak-anak secara sempurna. Selain itu, meskipun tidak adanya protein homolog dan reaksi silang alergi, sekitar 10% dari reaksi mediasi IgE dan 60% dari anak-anak reaksi mediasi non IgE juga alergi terhadap kedelai. Kebanyakan orang tua ingin mengganti susu sapi dengan susu binatang mamalia lainnya atau susu kedelai. Meskipun begitu, sebenarnya setiap pasien alergi susu sapi memiliki reaksi silang dengan susu biri-biri betina atau susu kambing, lagi pula susu-susu tersebut tidak memiliki nutrisi yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan bayi dan dapat menyebabkan anemia megaloblastik disebabkan kekurangan asam folat. Beberapa studi menyarankan bahwa susu unta dan keledai memiliki imunitas yang lebih baik namun komposisi lainnya sangat berbeda dari ASI sehingga tidak dapat digunakan. (5) Susu kambing sering menyebabkan terjadinya reaksi alergi pula lebih dari 90% anak dengan alergi protein susu sapi, dan 15% pada susu keledai, selain itu juga memiliki harga yang mahal. Susu binatang mamalia lainnya bukanlah pilihan nutrisi yang adekuat.
Amino acid formula (AAF) tidak bersifat alergenik, namun kekurangannya ialah mempunyai harga yang mahal dan rasa yang tidak enak. Nasi bersifat alergenik dan seringkali berpengaruh pada terjadinya sindrom enterocolitis pada bayi-bayi di Australia. Namun data yang berbeda ditunjukan oleh efek pada pertumbuhan dari protein yang terkandung di dalam nasi. Pada anak-anak di Itali, rice formula dapat ditoleransi pada anak dengan alergi protein susu sapi.
Rice formula dapat digunakan sebagai pilihan pada kasus-kasus tertentu apalagi dengan rasa yang lebih baik dan harga yang lebih murah. Dengan demikian, extensively hydrolysed formula adalah pengganti susu sapi yang direkomendasikan pada kasus alergi susu bayi dan anak-anak kecil.

2.6.2    Pengobatan Darurat
Dokter harus memberikan penjelasan fungsi dari pengobatan darurat pada kasus-kasus paparan yang accidental (tidak disengaja). Pengobatan ini meliputi antihistamin untuk reaksi-reaksi kulit ringan dan gastrointestinal, dan penggunaan adrenalin yang dapat disuntik sendiri untuk reaksi sistemik atau reaksi pada pernapasan. Kortikosteroid dapat juga diberikan untuk mencegah gejala-gejala fase rebound dan fase lambat namun pasien harus diberikan inform consent dengan jelas tentang fase lambat tersebut dan penggunaan adrenalin yang tidak terlambat.
2.6.3    Evolusi
Alergi susu mediasi IgE pada anak-anak telah ditunjukkan mencapai resolusi pada kebanyakan pasien sebelum usia 3 (tiga) tahun. Oleh karena itu, bayi harus dievaluasi secara teratur oleh seorang spesialis, yang akan menentukan waktu yang paling tepat untuk pengenalan susu ulang. Namun, sekitar 20% dari pasien akan tetap alergi untuk jangka waktu yang lebih lama. Faktor prognosis bergantung pada kadar IgE spesifik terhadap susu dan kadarnya menurun dari waktu ke waktu.

2.6.4    Algoritma Penatalaksanaan Alergi Susu Sapi Di Bawah 1 tahun
Jika terjadi reaksi yang berhubungan dengan meminum susu sapi, maka terdapat algoritme penatalaksanaan yang dapat dilakukan. Ketika alergi pada susu sapi diketahui, bayi harus diberikan diet bebas protein susu sapi selama 2-4 minggu. 4 minggu dimaksudkan untuk gejala gastrointestinal kronis. Bayi sebaiknya diberi makan dengan eHF atau SF pada anak-anak berusia lebih dari 6 bulan dan tanpa gejala gastrointestinal. Jika gejalanya membaik pada diet yang ketat, pemberian tantangan makanan sasu sapi merupakan tindakan diagnostic wajib untuk menentukan diagnosis. Jika tes pemberian tantangan makanan positif, anak harus mengikuti diet eliminasi dan mengulangi tes pemberian tantangan makanan setelah 6 bulan dan pada beberapa kasus dilulang 9-12 bulan kemudian. Jika tes pemberian tantangan makanan negatif, diet yang bebas sudah dilakukan. Susu sapi pengganti digunakan pada bayi kurang dari 12 bulan. Pada anak yang alergi protein susu sapi yang lebih tua, eHF dan AAF kurang berguna karena diet yang adekuat lainnya dapat didapatkan secara mudah.
Gejala akut yang parah seperti edema laryngeal, asma akut dengan kesulitan respiratori, anafilaksis. Jika terdapat salah satu dari gejala ini sebagai akibat dari alergi protein susu sapi, bayi harus mengikuti diet bebas susu sapi. Sebagai penggantinya, eHF atau SF atau AAF dapat digunakan. Penggunaan eHF dan SF harus dilakukan dibawah supervisi medis karena kemungkinan terjadinya reaksi alergi. Jika diberikan AAF maka AAF diberikan selama 2 (dua) minggu kemudian bayi dapat dirubah kembali SF atau eHF.
Pada anak dengan gejala alergi gastrointestinal parah yang lambat dengan pertumbuhan yang buruk, anemia atau hipoalbuminemia atau esofagogastropati eosinofilik, dianjurkan untuk memulai diet eliminasi menggunakan AAF kemudian diganti eHF. Efek dari diet tersebut dicek kembali dalam 10 (sepluluh) hari untuk sindrom enterocolitis, 1-3 minggu untuk enteropati dan 6 minggu untuk esofagogastropati eosinofilik.
Pada anak dengan anafilaksis dan tes IgE yang positif atau reaksi gastrointestinal yang parah, tes pemberian tantangan makanan tidak boleh dilakukan sebelum 6-12 bulan setelah reaksi alergi terakhir. Anak tersebut dilarang minum susu sapi sampai usia 12 bulan, tetapi pada anak dengan sindrom enterocolitis dilat=rang diberikan susu sapi sampai usia 2-3 tahun.
Anak dengan gejala reaksi alergi yang parah harus dirujuk ke pusat spesialistik. eHF atau AAF digunakan pada anak kurang dari usia 12 bulan dan pada anak lebih tua dengan gejala gastrointestinal yang parah. Pada anak dengan usia > 12 bulan dengan anafilaksis, penggantian susu sapi tidak diperlukan.
Pada bayi yang diberikan ASI eksklusif, gejala yang diduga berhubungan dengan alergi protein susu sapi ialah sampir selalu reaksi mediasi non IgE sebagai dermatitis atopi, muntah, diare, kolik.
Pada bayi dengan gejala mederat-parah, protein susu sapi, telur dan makanan lain harus dipantang oleh ibu hanya jika terdapat riwayat yang jelas. Oleh karena itu, bayi tersebut harus durujuk ke klinik spesialis. Diet eliminasi pada ibu dilakukan selama 4 minggu. Jika tidak terdapat perbaikan maka diet harus di stop. Jika gejalanya membaik, dianjurkan ibu meminum susu sapi dengan jumlah yang banyak selama 1 minggu. Jika terjadi gejala alergi, ibu harus melanjutkan dietnya dengan diberikan siet tambahan kalsium. Bayi dapat disapih serupa dengan bayi yang sehat, namun susu sapi harus dihindari sampai usia 9-12 bulan, dan sekurang-kurangnya 6 bulan dari permulaan diet. Jika jumlah ASI kurang, eHF dan SF (jika usia > 6 bulan) dapat juga diberikan. Jika setelah diberikan susu sapi kembali gejala tidak muncul, maka makanan yang sebelumnya dilarang dapat diberikan kembali satu per satu pada ibu.

Laktosa
Konsep alergi terhadap laktosa sudah sangat mendarah daging bahwa laktosa dapat merangsang terjadinya alergi dikemukakan dalam diagnosis banding terhadap efek samping dari makanan ketika penyebabnya tidak jelas. Reaksi alergi terhadap laktosa telah ditunjukan oleh studi kasus yang melaporkan terjadinya reaksi alergi yang cepat setelah pemberian royal jelly. Pabrik-pabrik lebih senang penggunaan laktosa dari ekstraksi susu daripada yang disintesis disebabkan alasan harga namun jarang disebutkan pada label dari produk tersebut. Sehingga para ahli alergi menganjurkan untuk menghindari makanan yang mengandung laktosa dikhawatirkan adanya paparan dari protein residu kepada anak yang alergi terhadap susu sapi. Pada penelitian yang dilakukan oleh Alessandro dan rekan-rekannya (2003) menemukan bahwa pemberian diet bebas laktosa atau laktosa residu pada makanan pada anak dengan alergi terhadap susu sapi adalah tidak perlu. Malahan, dapat terjadi ketidakseimbangan nutrisi atau defisiensi gizi yang dapat disebabkan oleh pembatasan diet produk susu, khususnya laktosa. Penelitian tersebut memiliki kesimpulan bahwa pada anak yang hipersensitif terhadap susu sapi, secara klinis masih memilki toleransi terhadap laktosa dan aman dikonsumsi sebagai makanan atau sebagai obat dengan komposisi laktosa di dalamnya.







2.7  Pencegahan
Pencegahan alergi dilakukan sedini mungkin. Hal ini dapat dilakukan sebelum anak tersensitisasi protein susu sapi, yaitu pada masa intrauterin. Pencegahan dapat dilakukan dengan mengkonsumsi susu sapi yang hipoalergi yaitu susu sapi partially hydrolyzed untuk merangsang pembentukan terjadinya toleransi di masa yang akan datang. Ketika reaksi alergi tetap terjadi setelah pemberian susu yang hipoalergi, maka pemberian susu harus digantikan oleh susu lain seperti susu kedelai.
Pada bayi, berdasarkan rekomendasi Eropa dan Amerika sebenarnya bergantung pada pemberian ASI eksklusif selama 4-6 bulan, diikuti dengan penundaan pengenalan makanan padat pada anak dengan risiko atopik (seperti atopik orang tua atau saudara kandung, atau anak-anak dengan dermatitis atopik). Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa bayi yang terkena alergi makanan (dalam hal ini susu sapi) pada awal kehidupan bayi melalui rute oral cenderung kurang akan memiliki alergi terhadap makanan dari bayi tanpa eksposur tersebut. Alergi susu sapi seringkali terdapat pada anak yang memiliki alergi makanan lainhya pada usia yang lebih tua. Pencegahan dan pengobatan yang baik adalah penting dalam mencegah alergi terhadap makanan di masa yang akan datang. Secara umum terdapat 3 (tiga) fase pencegahan terhadap alergi susu, yaitu:

Pencegahan Primer
Yang dilakukan sebelum tersensitisasi. Dilakukan sejak prenatal pada janin dengan keluarga yang memiliki bakat dermatitis atopi. Menghindari dengan cara memberikan susu sapi yang hipoalergi, seperti susu sapi partially hydrolyzed, dengan tujuan untuk merangsang toleransi dari alergi susu sapi pada masa yang akan datang, disebabkan masih mengandung sedikit partikel dari susu sapi, sebagai contoh dengan merangsang IgG blocking agent. Tindakan pencegahan ini juga dilakukan pada makanan alergi makanan lainnya, dan juga menghindari merokok.


Pencegahan Sekunder
Dilakukan setelah sensitisasi tetapi manifestasi penyakit alergi tidak muncul. Kondisi sensitisasi ditentukan oleh pemeriksaan IgE spesifik dalam serum atau darah tali pusat, atau dengan uji kulit. Saat tindakan yang optimal adalah usia 0-3 tahun. Penghindaran dilakukan dengan cara mengganti susu sapi menjadi susu sapi non alergenik, seperti susu sapi yang dihidrolisis sempurna atau pengganti susu sapi seperti susu kedelai yang tidak membuat terjadinya sensitisasi terjadinya manifestasi penyakit alergi. ASI eksklusif tampaknya juga dapat mengurangi risiko alergi.

Pencegahan Tertier
Dilakukan pada anak-anak yang telah mengalami manifestasi sensitisasi dan menunjukkan penyakit alergi awal seperti dermatitis atopik atau rinitis, tetapi belum menunjukkan gejala alergi yang lebih berat seperti asma. Saat tindakan yang optimal adalah pada usia 6 bulan sampai 4 tahun.
Penghindaran juga dilakukan dengan memberikan susu sapi hidrolisat sempurna atau pengganti susu sapi. Penyediaan obat preventif seperti setirizin, imunoterapi, imunomodulator tidak direkomendasikan karena belum terbukti secara klinis bermanfaat.

2.8  Prognosis
Antigenitas dan alergenitas protein susu sapi ini diketahui berkaitan dengan umur 8 dan alergi yang terjadi kebanyakan berkurang atau menghilang di usia 2-3 tahun. Bahkan ada pula yang menyatakan alergi susu sapi hanya terjadi pada tahun pertama kehidupan. Berdasarkan inilah pada usia tersebut dapat dicoba diberikan lagi susu sapi sedikit-sedikit dan dilihat apakah alergi susu sapi masih ada atau tidak.
Bayi dengan alergi susu sapi memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami alergi terhadap bahan makanan lain. Mereka juga memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami asma atau bentuk alergi lainnya dalam usia selanjutnya. Untuk itu, bagi anak yang mengalami alergi susu sapi, dianjurkan untuk menghindari makanan yang juga memiliki sifat alergenitas tinggi, seperti kacang, ikan, atau makanan laut, sampai usia 3 tahun.4 Walaupun demikian anak yang memiliki alergi susu sapi tak selalu alergi terhadap daging sapi atau bulu sapi, bahkan penelitian yang telah dilakukan hanya mendapatkan angka kurang dari 10% dari penderita alergi susu sapi yang mengalami reaksi terhadap daging sapi. Di samping itu, proses pemanasan maupun pengolahan juga akan semakin menurunkan sifat alegenitas daging sapi ; karenanya daging sapi yang dimasak secara baik sangat jarang menimbulkan masalah pada penderita protein susu sapi.
Dalam kaitannya dengan sifat alergi yang dimilikinya, berbagai penelitian telah memperlihatkan pola hubungan berkesinambungan proses sensitisasi alergen dengan perkembangan dan perjalanan alergi yang dikenal dengan nama allergic march, yaitu perjalanan alamiah penyakit alergi. Secara klinis, allergic march terlihat berawal sebagai alergi pada saluran cerna (umumnya berupa diare karena alergi susu sapi) yang akan berkembang menjadi alergi pada lapisan kulit (dermatitis atopi) dan kemudian alergi pada saluran napas (asma bronkial, rinitis alergi).
















PENYAKIT HEMATOLOGI

3.1  Kolesterol Darah
Kolesterol darah adalah salah satu unsur yang paling penting dari darah / tubuh. Kolesterol darah memiliki fungsi tubuh yang berbeda, dan membangun sel-sel sehat. Kolesterol darah merupakan konstituen penting dari dinding sel (membran), dan jika tingkat kolesterol darah turun di bawah normal, dinding sel darah merah (RBC) yang cenderung pecah, sehingga menyebabkan penurunan berat pada hemoglobin (Hb).
Kolesterol terutama berasal dari diet, yaitu dari mentega, ghee (lemak jenuh), kuning telur, makanan non-vegetarian. Makanan laut / ikan berisi konten yang rendah lemak jenuh. Namun, lemak tak jenuh ganda seperti safflower, jagung, bunga matahari, kedelai, dan minyak biji kapas, dll tidak menimbulkan serum kadar kolesterol dalam darah. Ini direkomendasikan baik untuk pencegahan dan pengobatan kolesterol darah tinggi.
Kolesterol juga disintesis / dibuat di dalam tubuh. Ini telah mendapat ekskresi terbatas. Beberapa lolosdalam kotoran / empedu, tetapi kebanyakan tetap di dalam tubuh. Tingkat kolesterol darah meningkat begitu orang makan.
Tingkat kolesterol darah normal harus antara 150-199 mg/dl, dan jika lebih dari 240 mg/ dl, hal ini dikategorikan tingkat tinggi kolesterol darah. Pasien memiliki tingkat kolesterol darah antara 200-239 mg / dl adalah batas kasus.
Namun, mereka dengan tingkat kolesterol darah normal harus mendapatkan darah mereka itu check-up, setidaknya setiap lima tahun, terutama setelah usia 40. Secara umum, semua orang di atas usia 20 tahun harus mendapatkan darah mereka diuji untuk kecuali tingkat tinggi kolesterol.
Pada anak-anak di atas usia 2 tahun, darah dapat diuji untuk tingkat kolesterol, dalam kasus mereka memiliki riwayat keluarga darah tinggi. Kolesterol / penyakit arteri koroner / stroke. Tingkat kolesterol darah mungkin meningkat bila seorang wanita pada kontrasepsi oral atau sedang hamil. Tingkat ini cenderung menurun setelah kehamilan berakhir, atau setelah kontrasepsi oral dihentikan. Mungkin diperlukan 5-6 bulan bahkan bahkan lebih sampai ke tingkat normal. Skrining untuk kolesterol darah tinggi harus dilakukan melalui kamp medis / rumah-ke rumah survei untuk mencari pasien yang menderita penyakit ini, karena mereka memerlukan perawatan segera. Signifikan penting sekarang sedang diberikan kepada tingkat kolesterol di antara populasi umum. Hal ini sangat penting untuk mengetahui tingkat kolesterol dalam darah seseorang pada usia dini.
Kolesterol darah dapat diuji pada setiap laboratorium biokimia, setelah rekomendasi dari dokter. Kita harus berbicara dengan dokter seseorang tentang pengujian kolesterol darah. Tingkat kolesterol harus diperiksa saat menjalani ibadah puasa di pagi hari, dan jika seseorang menggunakan alkohol, ia harus menghindari selama minimal 48 jam sebelum ujian. Di atas semua, tes harus dilakukan oleh ahli biokimia berpengalaman. Jika tingkat kolesterol darah tinggi, maka disarankan bahwa suatu lipidogram dilakukan.
Kadar kolesterol darah tinggi yang berbahaya bagi tubuh. Mereka menyebabkan penyempitan dan bahkan penyumbatan arteri koroner (pembuluh darah yang memasok jantung) dan pembuluh darah yang memasok otak, yang menyebabkan serangan jantung dan stroke (kelumpuhan, dll) masing-masing. Kemungkinan mengembangkan penyakit ini menjadi lebih tinggi jika seseorang memiliki, di samping itu, diabetes, tekanan darah tinggi dan obesitas. Risiko ini juga meningkat jika seseorang memiliki sejarah keluarga kolesterol darah tinggi / serangan jantung. Bahayanya juga lebih besar pada orang yang kecanduan merokok / mengunyah tembakau, dan mempunyai kebiasaan menetap. Pada wanita risiko jauh lebih setelah menopause. Kadar kolesterol tinggi dapat mengakibatkan batu empedu, dan bahkan mungkin kanker. 






3.2.Penyakit Jantung Koroner
Penyakit jantung koroner merupakan peyakit yang selalu mengakibatkan permasalahan besar dikalangan medis mengingat meningkatnya frekuensi maupun komplikasinya semakin dengan makin berkembangnya suatu negara. Pada abad awal ke-20an penyakit kardiovaskuler hanya bertanggung jawab sebesar kurang dari 10 %  seluruh penyebab kematian didunia.
Pada akhir abad tersebut, angka kematiannya sudah mencapai hampir 50% dinegara yang sudah maju dan 25 % dinegara yang berkembang (World Health Organization 1999, Murray dan Lopez,1996).
Penyakit Jantung Koroner merupakan penyebab kematian tertinggi di dunia dan  di Indonesia. Penyakit ini seringkali menyebabkan kematian mendadak tanpa adanya gejala yang mendahuluinya.
Penyakit jantung Koroner (PJK) terjadi akibat ketidakseimbangan antara kebutuhan oksigen pada otot jantung dengan penyediaan yang diberikan oleh pembuluh darah koroner. Akibatnya otot jantung menjadi kekurangan oksigen sehingga dapat menimbulkan gangguan yang  cukup serius pada jantung.
Gangguan PJK terletak pada pembuluh darah koroner kelainanya berupa proses perkapuran (aterosklerosis) dalam berbagai tingkat mulai dari penyempitan ringan sampai suatu saat terjadilah penyumbatan total dari dinding pembuluh darah. Penderita biasanya mengeluh nyeri dada sebelah kiri seperti rasa tertekan. Kadangkala nyeri menjalar ke lengan kiri ataupun ke dagu. Faktor resiko terjadinya aterosklerosis dibedakan menjadi 2, yaitu :

3.3. Faktor  Resiko Dapat Dikendalikan
§  Merokok
§  Hipertensi
§  Kencing Manis
§  Hiperkolestrol
§  Obesitas (kegemukan)
§  Stress
§  Pemakaian Obat Tertentu (Steroid)
3.4. Faktor  Resiko Tidak  Dapat Dikendalikan
§  Umur
§  Laki-laki
§  Riwayat penyakit jantung pada keluarga

3.5. Upaya  Pencegahan
Usaha pencegahan terhadap PJK tentunya dengan mengendalikan faktor-faktor resiko diatas. Tindakan pencegahan dapat dilakukan secara bertahap, mulai dari pencegahan primer, sekunder,dan tertier.
Pencegahan primer adalah upaya mencegah PJK sejak dini sebelum terlihat adanya penyakit upaya yang telah diarahkan kepada uasaha promotif seperti kampanye anti rokok dan menganjurkan kebiasaan melakukan olahraga kepada masyarakat. Mendidik masyarakat tentang pola makan sehat juga merupakan pencegahan primer. Dengan cara menganjurkan mengkomsumsi makan  kaya serat dan rendah kolestrol. Makanan seperti tempe dan tahu yang masih dianggap sebagai makanan kelas bawah oleh sebagian masyarakat ternyata sangat baik untuk melindungi kesehatan jantung.

Keunggulan tempe :
§  Tempe memiliki kandungan protein,asam lemak tak jenuh dan serat yang tinggi.Tempe mempunyai efek menurunkan kadar kolestrol total dan Kolestrol LDL serta dapat meningkatkan Kolestrol HDL.
§  Secara tidak langsung tempe juga mempunyai afek anti aterogenik yang mampu mencegah timbulnya PJK.

Pencegahan sekunder ditujukan untuk mencegah serangan ulangan pada orang yang sudah pernah terkena PJK. Bentuk pencegahan sekunder seperti penderita diharapakan melakukan pola gaya hidup sehat dengan menghentikan kebiasaan merokok, mematuhi petunjuk olahraga, mengatur pola makan sehat serta mengendalikan penyakit yang dimilikinya seperti hipertensi, kencing manis dan kegemukan.
Pencegahan tertier merupakan program rehabilitasi guna meningkatkan kualitas hidup penderita dan mencegah kecacatan lebih lanjut.
3.6.    Penanganan Medis
Cara Pengobatan PJK yaitu Pengobatan Farmakologis, revaskularisasi miokard. Dan perlu diingat bahwa tidak satupun cara diatas bersifat menyembuhkan. Dengan kata lain tetap diperlukan modifikasi gaya hidup dan mengatasi faktor penyebab agar progresi penyakit dapat dihambat.

·      Pengobatan Farmakologik
-  Aspirin dosis rendah : Aspirin disarankan diberikan pada semua pasien PJK kecuali bila ditemui kontraindikasi.
-  Obat penurun kolesterol
-  Pengobatan dengan statin digunakan untuk mengurangi resiko baik pada prevensi primer maupun skunder. Target penurunan LDL kolesterol adalah < 100 mg/dl dan pada pasien resiko tinggi, DM, penderita PJK dianjurkan menurunkan LDL kolesterol <70 mg/dl.
·      Revaskularisasi miokard
Ada dua cara revaskularisasi yg telah terbukti yaitu tindakan revaskularisai pembedahan, bedah pintas koroner dan tindakan intervensi perkutan (PCI).














BAB III
KESIMPULAN

Alergi susu sapi adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang disebabkan oleh alergi terhadap susu sapi dengan keterlibatan mekanisme sistem imun, yang disebabkan oleh kandungan protein di dalam susu sapi. Alergi susu sapi seringkali diduga terjadi pada pasien, disertai banyak gejala klnis. Sindrom klinis yang terjadi sebagai akibat alergi pada susu dapat bermacam-macam, meskipun demikian dapat diketahui dengan baik. Penatalaksanaan alergi dapat dilakukan kepada bayi maupun juga kepada ibu yang memberikan ASI-nya. Dan pencegahan saat ini sudah dapat dilakukan semenjak masih dalam kandungan.

Penyakit jantung koroner merupakan peyakit yang selalu mengakibatkan permasalahan besar dikalangan medis mengingat meningkatnya frekuensi maupun komplikasinya semakin dengan makin berkembangnya suatu negara. Penyakit jantung Koroner (PJK) terjadi akibat ketidakseimbangan antara kebutuhan oksigen pada otot jantung dengan penyediaan yang diberikan oleh pembuluh darah koroner. Akibatnya otot jantung menjadi kekurangan oksigen sehingga dapat menimbulkan gangguan yang  cukup serius pada jantung. Gangguan PJK terletak pada pembuluh darah koroner kelainanya berupa proses perkapuran (aterosklerosis) dalam berbagai tingkat mulai dari penyempitan ringan sampai suatu saat terjadilah penyumbatan total dari dinding pembuluh darah. Penderita biasanya mengeluh nyeri dada sebelah kiri seperti rasa tertekan.
Pencegahan PJK penting sekali diperhatikan terutama pada kelompok orang dengan resiko tinggi. Pemeriksaan fatktor resiko harus dimulai sejak 20 tahun terutama apabila ada riwayat keluarga dengan PJK.Seluruh orang dewasa usia diatas 40 tahun harus mengetahui faktor resiko dan prediksi besarnya resiko PJK dalam 10 tahun dengan tujuan menurunkan faktor resiko sebesar-besarnya.



DAFTAR PUSTAKA


Crittenden RG, Bennett LE..Cow’s milk allergy: a complex disorder. J Am Coll Nutr. 2005 Dec;24(6 Suppl):582S-91S.

Tokodi I, Maj C, Gabor S. Cycle vomiting syndrome as a clinical appearance of eosinophilic gastroenteritis. Orv Hetil. 2005 Oct 30;146(44):2265-9. Hungarian..

Oldak E. The incidence and clinical manifestation of food allergy in unselected Polish infants: follow-up from birth to one year of age. Rocz Akad Med Bialymst. 1997;42(1):196-204.

jantung koroner.repository.usu.ac.id/bitstream.pdf


repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/705/1/08E00124.pdf
Poskan Komentar